Untuk Berlangganan Gratis

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Serba - Serbi Psikotes




Saat melamar ke suatu perusahaan, biasanya kita diminta mengerjakan beragam psikotes. Sampai bosan deh rasanya, karena tes yang ada cenderung sama-meski kadang-kadang ada juga yang berbeda. Herannya, kadang ada teman yang dari segi akademis berada di bawah kita tapi dia lolos psikotes, sementara kita gagal.

Sebenarnya apa ish yang dilihat perusahaan dari psikotes ? Lalu, sejauh mana psikotes mempengaruhi keputusan perusahaan untuk merekrut kita ?

Apa Sih Psikotes ?

Psikotes atau psychological assessment merupakan proses pengumpulan dan pengintegrasian data individu dengan tujuan melakukan evaluasi psikologis.

“Proses ini menggunakan alat bantu seperti tes, wawancara, studi kasus, observasi, dan prosedur pengukuran lain,” jelas Dewi Maulina M.Psi, dosen Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

Jika dikaitkan dengan tujuan seleksi pekerjaan, psikotes merupakan proses untuk melihat apakah ada kesesuaian dari karakter individu dengan persyaratan jabatan atau pekerjaan. Dengan demikian, nantinya pelamar yang diterima memang merupakan orang yang paling tepat dengan jabatan atau pekerjaan yang dituju. Istilahnya : The right man in the right place.

Misalnya untuk posisi accounting, perusahaan akan mencari individu yang memiliki tingkat ketelitian kerja dan daya tahan tinggi. Sementara untuk posisi marketing, perusahaan akan mencari individu yang menyukai kerja lapangan, suka bertemu orang lain, suka tantangan, motivasi kerja tinggi, dan memiliki inisiatif kerja yang baik, ” jelas Eliza Carolina, konsultan karier dari Total Career.

Jadi, bagi kita yang cenderung introvert, engga usah heran kalau gagal terus ketika melamar posisi marketing. Karakter kita (dianggap) tidak sesuai dengan karakter pekerjaan.

Apa Yang Diukur ?

Menurut Dewi, biasanya ada 3 hal utama yang digali dari individu saat psikotes :

1. Aspek Kemampuan
Misalnya kemampuan analitis dan sintesis (daya nalar) dalam pemecahan masalah, kemampuan hitungan, pengetahuan umum, dan lain-lain.

2. Aspek Sikap Kerja
Misalnya kecepatan kerja, ketelitian, daya tahan terhadap tekanan (stres), ketekunan, keteraturan dalam bekerja, dan sebagainya.

3. Aspek Kepribadian
Misalnya kepemimpinan, kerjasama, kematangan emosi, kepercayaan diri, kepercayaan interpersonal, motivasi, dan lain-lain.

Kenapa Tesnya Variatif ?
Ada banyak variasi alat tes. Tentunya, masing-masing alat tes mengukur suatu hal yang spesifik.


” Psikolog atau biro psikologi akan menggunakan alat tes yang dirasa sesuai kebutuhan. Karena itu, tiap perusahaan bisa menggunakan kombinasi alat tes yang berbeda, ” kata Eliza.

Dewi menambahkan, hal tersebut merupakan sesuatu yang wajar karena bisa saja job requirement yang dibutuhkan berbeda, meski jabatannya sama.

” Misalnya, kompetensi yang dibutuhkan manajer HRD di perusahaan media berbeda dengan manajer HRD di perusahaan minyak, ” jelas Dewi.

Selain itu, standar yang dibutuhkan setiap perusahaan berbeda. Contohnya, nilai 7 pada aspek kepemimpinan di perusahaan X dianggap cukup untuk menjalani tugas sebagai manajer. Sementara di perusahaan Y standar minimal untuk menjadi manajer adalah nilai 8. Biasanya perbedaan tersebut juga dipengaruhi karakteristik dan budaya perusahaan. Antara perusahaan lokal versus multinasional, perusahaan kota kecil versus kota besar, maupun perusahaan industri versus jasa, kebutuhannya tentu berbeda. Karena itu, kombinasi psikotesnya pun berbeda.

Persaingan Individu
Kenapa A lolos psikotes sementara B gagal, padahal secara akademis kemampuan B berada di atas A? Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, proses psikotes pada dasarnya menggali aspek kemampuan, sikap kerja, dan kepribadian individu. Sehingga keberhasilan individu lolos psikotes tidak hanya ditentukan kemampuan akademis semata, tapi juga faktor-faktor lain, seperti sikap kerja dan kepribadian.

” Bisa saja si B yang IQ-nya jauh lebih tinggi tidak lolos karena profil kepribadiannya menunjukkan tingkat ambisi tinggi yang cenderung destruktif, kurang bisa bekerja dalam tim, dan sulit menerima teguran, ” kata Eliza. Dewi mengamini. Menurutnya, kemampuan akademis yang tidak ditunjang sikap kerja dan kepribadian dapat menghambat individu lolos psikotes.

Apalagi bila hal yang menjadi kelemahan merupakan faktor penting yang dibutuhkan dalam pekerjaan atau jabatan yang dituju, ” jelas Dewi.

Contohnya dalam seleksi calon seketari. Secerdas apapun kandidat yang melamar, jika memiliki sikap tidak teliti kemungkinan lolos psikotes tentu kecil.

Apakah Dapat Dipelajari ?
Dewi bilang, tidak ada gunanya kita mempelajari psikotes lewat buku yang banyak beredar di pasaran.
” Pada aspek kemampuan-terutama yang berkaitan dengan kemampuan akademis -psikotes mungkin saja bisa dipelajari dan dilatih. Tapi untuk sikap kerja dan kepribadian akan sulit dipelajari, ” ujarnya.
” Daripada sibuk berlatih dan menghafal soal-soal psikotes, lebih baik tampil rileks sehingga dapat mengeluarkan kemampuan yang dimiliki secara optimal. Berlatih hanya menambah ketegangan dan mengurangi konsentrasi karena pikiran menjadi terpaku pada apa yang seharusnya ditampilkan, ” Dewi melanjutkan.

Manipulasi Jawaban
Pertanyaan yang juga sering dilontarkan : apakah kita bisa memanipulasi jawaban saat psikotes ?
” Manipulasi jawaban dengan berusaha menjadi ’ pribadi tertentu ’ amat sulit dilakukan, apalagi tes yang diberikan banyak dan melelahkan. Akan sulit mempertahankan diri menjadi ’ pribadi tertentu ’ dalam situasi tes yang berada di bawah tekanan, ” kata Eliza.
Eliza mengakui, banyak individu mencoba melakukan hal ini. Namun, pertanyaan-pertanyaan di tes juga telah diatur sedemikian rupa untuk mencegah terjadinya manipulasi.
” Ketidakberhasilan melakukan konsistensi malah menyebabkan hasil tes jadi kurang baik, ” kata Eliza lagi.
Dewi pun menambahkan bahwa tidak ada gunanya memanipulasi jawaban.
” Psikotes menggunakan serangkaian alat tes. Hasil dari masing-masing akan dibandingkan untuk mendapatkan gambaran secara menyeluruh. ”
Seandainya individu sukses memanipulasi, yang rugi malah dirinya sendiri karena di memaksakan diri bekerja di bidang yang tidak cocok dengan karakternya. Akibatnya, jadi sulit berprestasi optimal di tempat kerja.

Waktu Berbeda
Jika psikotes dilakukan pada waktu berbeda apakah hasilnya juga akan berbeda ? Menurut Eliza bisa berbeda karena banyak faktor yang mempengaruhi hasil psikotes, di antaranya :

- Kondisi mental
Bila individu sedang stres atau ada masalah akan mempengaruhi hasil tes kepribadian

- Kondisi fisik
Bila sedang tidak prima-misal kurang tidur, lapar atau sakit- dapat menurunkan daya konsentrasi

- Kondisi tempat tes
Bila udara terlalu dingin/terlalu panas, posisi duduk tidak nyaman, atau suasana terlalu berisik dapat mengganggu konsentrasi

No comments:

Post a Comment

Archive

Popular Posts

There was an error in this gadget