Untuk Berlangganan Gratis

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Gambar Punya-nya Masing-Masing

haxims.blogspot.com

pilih mana hayo...?
READ MORE - Gambar Punya-nya Masing-Masing

20 Foto Twitter Paling Konyol & Lucu

Apakah Twitter telah menginspirasi orang untuk mengirim foto-foto yang paling menggelikan, menjijikkan, dan tak menyenangkan diri mereka sendiri? Kami tidak punya jawaban untuk pertanyaan itu, tapi kami senang mereka melakukannya karena itu akan membuat kita tertawa! Lihat sendiri - di sini adalah dua puluh foto lucu dan aneh yang diposting di Twitter. Semua foto berasal dari Dumb Tweets.

1. G-String On The Road


2. Bokong Perwira ....

3. Bieber Lover ...
...
4. Ciuman untuk Kloset Kesayangan

5. Pemakaman Gangster

6. Mama Pecinta Rootbeer


7. Suatu Pagi, Setelah Malam Indah Itu ............

8. Dampak buruk pesta

9. Left-over, Anyone ..???

10. Tampaknya seseorang sedang kesasar tangannya ..........

11. Lebih Besar dari Kepalanya

12. Kaki Menjijikkan

13. Meja Laptop Extra Large ... Large.. n Huge

14. Dua Sejoli ....
15. Lelaki Pemberani

16. Shoping

17.Bayi ??? Bayi Apa ?? Dimana ???

18. Prom Night

19. Bayi ....

20. Seseorang di rumah anjing ...


sumber
READ MORE - 20 Foto Twitter Paling Konyol & Lucu

Ciri-ciri orang yang sering begadang

http://hermawayne.blogspot.com
1. Suka bangun kesiangan bahkan sampai sore
Ini dikarenakan kebiasaan tidak tidur semalaman sehingga siang dijadikan malam, malam dijadikan siang.

2. Lebih semangat bekerja saat malam tiba
Ya, disini orang yang sudah terbiasa begadang akan merasa sangat bergairah melakukan sesuatu di malam hari, entah itu untuk pekerjaan ataupun hal-hal lainnya.

3. Makan saat rasa lapar datang
Rata-rata orang yang hobi begadang terkadang lupa sama yang namanya makan, mereka cenderung asik dengan kegiatannya masing-masing. di saat perut mereka lapar baru mereka makan, jelas ini sangat tidak baik untuk kesehatan.

4. Makan jadi tidak teratur
Idealnya, salah satu cara pola hidup sehat adalah makan teratur tepat waktu. Kebanyakan mereka yang hobi begadang melalaikan aturan ini sehingga sering terkena berbagai penyakit seperti anemia, maag, dll.

5. Saat di depan komputer males ngapa-ngapain kalau nggak penting-penting amat
kalau yang ini relatif, karena banyak mereka yang hobi begadang karena keasikan di depan komputer seperti main game, browsing, dll.

6. Teman sejati rokok + kopi (tidak semua doyan)
Sepertinya ini sudah menjadi kewajiban dan menjadi kebiasaan bagi mereka yang hobi begadang, karena khususnya kopi bisa mengurangi rasa kantuk sehingga jangan aneh jika melihat orang yang hobi begadang pasti sangat doyan sama yang namanya kopi dan rokok.

7. Banyak ide males ngomong, harus dipancing supaya bisa mengutarakannya
Karena kurangnya intensitas tidur di malam hari sangat menguras tenaga dan pikiran mereka sehingga cenderung 'kurang aktif' dalam kehidupan sehari-hari

8. Tidur saat matahari terbit sama diomelin ortu
Mungkin ini berlaku bagi mereka yang masih tinggal bersama orang tua, kebiasaan begadang dan tidur saat matahari terbit jelas tidak baik untuk kesehatan.

9. Mata terlihat sayu-sayu ngantuk tapi semangat, berpenampilan layaknya orang bingung tapi banyak pengetahuan
Kebiasaan begadang jelas berpangaruh pada fisik seseorang, bukan hanya dari kondisi badan yang cenderung tidak sehat,lemas, juga berpengaruh pada mata yang terlihat sayu-sayu seperti zombie.

10. Tidak peduli besok masuk kerja jam berapa
Ini sesuatu yang sangat berbahaya bagi mereka yang hobi begadang. Mungkin karena intensitas tidur di malam hari yang kurang, sehingga melalaikan apa yang jadi kewajiban di siang hari.

Sumber: kaskus.us
READ MORE - Ciri-ciri orang yang sering begadang

10 Mata uang tertua di Indonesia

10. Uang Real Batu, Kesultanan Sumenep (1730 M)

Kerajaan Sumenep di Madura mengedarkan mata uang yang berasal dari uang-uang asing yang kemudian diberi cap bertulisan Arab berbunyi ‘sumanap’ sebagai tanda pengesahan. Uang kerajaan Sumenep yang berasal dari uang Spanyol disebut juga real batu karena bentuknya yang tidak beraturan. Dulunya uang perak ini banyak beredar di Mexico yang kemudian beredar juga di Filipina (jajahan Spanyol). Di negeri asalnya uang mi bernilai 8 Reales. Selain uang real Mexico, kerajaan Sumenep juga memanfaatkan uang gulden Belanda dan uang thaler Austria.

9. Uang Picis, Kesultanan Cirebon (1710 M)

Sultan yang memerintah kerajaan Cirebon pernah mengedarkan mata uang yang pembuatannya dipercayakan kepada seorang Cina. Uang timah yang amat tipis dan mudah pecah ini berlubang segi empat atau bundar di tengahnya, disebut picis, dibuat sekitar abad ke-17. Sekeliling lubang ada tulisan Cina atau tulisan berhuruf Latin berbunyi CHERIBON.

8. Uang Jinggara, Kerajaan Gowa (Abad ke-16)

Di daerah Sulawesi, yaitu Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara, berdiri kerajaan Gowa dan Buton. Kerajaan Gowa pernah mengedarkan mata uang dan emas yang disebut jingara, salah satunya dikeluarkan atas nama Sultan Hasanuddin, raja Gowa yang memerintah dalam tahun 1653-1669. Di samping itu beredar juga uang dan bahan campuran timah dan tembaga, disebut kupa.

7. Uang Kasha Banten, Kesultanan Banten (Abad ke-15)

Mata-uang dari Kesultanan banten pertama kali dibuat sekitar 1550-1596 Masehi. Bentuk koin Banten mengambil pola dari koin cash Cina yaitu dengan lubang di tengah, dengan ciri khasnya 6 segi pada lubang tengahnya (heksagonal). Inskripsi pada bagian muka pada mulanya dalam bahasa Jawa: “Pangeran Ratu”. Namun setelah mengakarnya agama Islam di Banten, inskripsi diganti dalam bahasa Arab, “Pangeran Ratu Ing Banten”. Terdapat beberapa jenis mata-uang lainnya yang dicetak oleh Sultan-sultan Banten, baik dari tembaga ataupun dari timah, seperti yang ditemukan pada akhir-akhir ini.

6. Uang Kampua, Kerajaan Buton (Abad ke-14)

Uang yang sangat unik,yang dinamakan Kampua dengan bahan kain tenun ini merupakan satu-satunya yang pernah beredar di Indonesia. Menurut cerita rakyat Buton, Kampua pertamakali diperkenalkan oleh Bulawambona,yaitu Ratu kerajaan Buton yang kedua,yang memerintaha sekitar abad XIV. Setelah ratu meninggal,lalu diadakan suatu “pasar” sebagai tanda peringatan atas jasa-jasanya bagi kerajaan Buton. Pada pasar tersebut orang yang berjualan engambil tempat dengan mengelilingi makam Ratu Bulawambona. Setelah selesai berjualan,para pedagang memberikan suatu upetiyang ditaruh diatas makam tersebut,yang nantinya akan masuk ke kas kerajaan. Cara berjualan ini akhirnya menjadi suatu tradisi bagi masyarakat Buton,bahkan sampai dengan tahun 1940.

5. Uang Dirham, Kerajaan Samudra Pasai (1297 M)

Mata uang emas dari Kerajaan Samudra Pasai untuk pertama kalinya dicetak oleh Sultan Muhammad yang berkuasa sekitar 1297-1326. Mata uangnya disebut Dirham atau Mas, dan mempunyai standar berat 0,60 gram (berat standar Kupang). Namun ada juga koin-koin Dirham Pasai yang sangat kecil dengan berat hanya 0,30 gram (1/2 Kupang atau 3 Saga). Uang Mas Pasai mempunyai diameter 10–11 mm, sedangkan yang setengah Mas berdiameter 6 mm. Pada hampir semua koinnya ditulis nama Sultan dengan gelar “Malik az-Zahir” atau “Malik at-Tahir”.

4. Uang Gobog Wayang, Kerajaan Majapahit (Abad k-13)

pada zaman Majapahit ini dikenal koin-koin yang disebut “Gobog Wayang”, dimana untuk pertama kalinya diperkenalkan oleh Thomas Raffles, dalam bukunya The History of Java. Bentuknya bulat dengan lubang tengah karena pengaruh dari koin cash dari Cina, ataupun koin-koin serupa yang berasal dari Cina atau Jepang. Koin gobog wayang adalah asli buatan lokal, namun tidak digunakan sebagai alat tukar. Sebenarnya koin-koin ini digunakan untuk persembahan di kuil-kuil seperti yang dilakukan di Cina ataupun di Jepang sehingga disebut sebagai koin-koin kuil. Setelah redup dan runtuhnya kerajaan Majapahit di Jawa Timur (1528), Banten di Jawa bagian barat muncul sebagai kota dagang yang semakin ramai.

3. Uang "Ma", (Abad ke-12)

Mata uang Jawa dari emas dan perak yang ditemukan kembali, termasuk di situs kota Majapahit, kebanyakan berupa uang “Ma”, (singkatan dari māsa) dalam huruf Nagari atau Siddham, kadang kala dalam huruf Jawa Kuno. Di samping itu beredar juga mata uang emas dan perak dengan satuan tahil, yang ditemukan kembali berupa uang emas dengan tulisan ta dalam huruf Nagari. Kedua jenis mata uang tersebut memiliki berat yang sama, yaitu antara 2,4 – 2,5 gram.

Selain itu masih ada beberapa mata uang emas dan perak berbentuk segiempat, ½ atau ¼ lingkaran, trapesium, segitiga, bahkan tak beraturan sama sekali. Uang ini terkesan dibuat apa adanya, berupa potongan-potongan logam kasar; yang dipentingkan di sini adalah sekedar cap yang menunjukkan benda itu dapat digunakan sebagai alat tukar. Tanda tera atau cap pada uang-uang tersebut berupa gambar sebuah jambangan dan tiga tangkai tumbuhan atau kuncup bunga (teratai?) dalam bidang lingkaran atau segiempat. Jika dikaitkan dengan kronik Cina dari zaman Dinasti Song (960 – 1279) yang memberitakan bahwa di Jawa orang menggunakan potongan-potongan emas dan perak sebagai mata uang, mungkin itulah yang dimaksud.

2. Uang Krishnala, Kerajaan Jenggala (1042-1130 M)

Pada zaman Daha dan Jenggala, uang-uang emas dan perak tetap dicetak dengan berat standar, walaupun mengalami proses perubahan bentuk dan desainnya. Koin emas yang semula berbentuk kotak berubah desain menjadi bundar, sedangkan koin peraknya mempunyai desain berbentuk cembung, dengan diameter antara 13-14 mm.

Pada waktu itu uang kepeng Cina datang begitu besar, sehingga saking banyaknya jumlah yang beredar, akhirnya dipakai secara “resmi” sebagai alat pembayaran, menggantikan secara total fungsi dari mata uang lokal emas dan perak.

1. Uang Syailendra (850 M)

Mata uang Indonesia dicetak pertama kali sekitar tahun 850/860 Masehi, yaitu pada masa kerajaan Mataram Syailendra yang berpusat di Jawa Tengah. Koin-koin tersebut dicetak dalam dua jenis bahan emas dan perak, mempunyai berat yang sama, dan mempunyai beberapa nominal :

* Masa (Ma), berat 2.40 gram; sama dengan 2 Atak atau 4 Kupang
* Atak, berat 1.20 gram; sama dengan ½ Masa, atau 2 Kupang
* Kupang (Ku), berat 0.60 gram; sama dengan ¼ Masa atau ½ Atak

Sebenarnya masih ada satuan yang lebih kecil lagi, yaitu ½ Kupang (0.30 gram) dan 1 Saga (0,119 gram). Koin emas zaman Syailendra berbentuk kecil seperti kotak, dimana koin dengan satuan terbesar (Masa) berukuran 6 x 6/7 mm saja. Pada bagian depannya terdapat huruf Devanagari “Ta”. Di belakangnya terdapat incuse (lekukan ke dalam) yang dibagi dalam dua bagian, masing-masing terdapat semacam bulatan. Dalam bahasa numismatik, pola ini dinamakan “Sesame Seed”.

Sedangkan koin perak Masa mempunyai diameter antara 9-10 mm. Pada bagian muka dicetak huruf Devanagari “Ma” (singkatan dari Masa), dan di bagian belakangnya terdapatsyailendra.JPG incuse dengan pola “Bunga Cendana”.

sumber
READ MORE - 10 Mata uang tertua di Indonesia
Bisnis 100% Tanpa Modal

Archive

Popular Posts